MAN 11 Jakarta Jadi Rujukan Madrasah Inklusi, KKM MTsN Padang Pariaman dan Kota Pariaman Lakukan Studi Tiru
Jakarta (Humas MAN 11 Jakarta Selatan) — Komitmen MAN 11 Jakarta Selatan dalam mengembangkan pendidikan inklusif kembali mendapat perhatian dari madrasah di luar daerah. Sebanyak 10 kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) dari Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman melakukan kunjungan studi tiru, konsultasi, dan koordinasi terkait pengembangan program madrasah inklusi di MAN 11 Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).
Kunjungan tersebut turut didampingi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman serta Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman, Edy Oktafiandi. Kehadiran para pimpinan madrasah dan jajaran Kementerian Agama ini menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring, bertukar pengalaman, serta menggali praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Mengusung tema “Penguatan Implementasi Madrasah Inklusi dalam Mewujudkan Pendidikan yang Ramah, Setara, dan Berkeadilan bagi Semua Peserta Didik”, kegiatan berlangsung melalui studi tiru, diskusi, berbagi praktik baik, konsultasi, koordinasi, serta observasi terhadap pelaksanaan program madrasah inklusi di MAN 11 Jakarta Selatan.
Rombongan disambut oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarpras sekaligus Guru Pendamping Khusus (GPK) MAN 11 Jakarta Selatan, Novita Reiny Purwaningsih, bersama jajaran madrasah. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, para peserta memperoleh gambaran mengenai kebijakan, tata kelola, program layanan, strategi pembelajaran, hingga pengembangan ekosistem pendidikan yang mendukung peserta didik berkebutuhan khusus. Kegiatan diskusi dipandu oleh Indra Cahya Firdaus, Wakil Kepala Madrasah Bidang Pengembangan Mutu.
Dalam sambutannya, Reiny menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan dari Kabupaten/Kota Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Ia menjelaskan bahwa MAN 11 Jakarta Selatan memiliki sejumlah program unggulan yang disebut menjadi 7 Summit Eleven, di antaranya Madrasah Inklusi, BRIDGE, Adiwiyata, Digital, Tahfiz, Zona Integritas (ZI), dan Riset.
Menurut Reiny, perjalanan MAN 11 Jakarta Selatan dalam mengembangkan pendidikan inklusi bukanlah sesuatu yang baru. Program pendidikan inklusi telah dijalankan sejak 1998. Dalam perjalanannya, program tersebut terus dikembangkan melalui berbagai inovasi dan penguatan layanan sehingga menjadi bagian dari karakter pendidikan MAN 11 Jakarta Selatan.
Pendidikan Inklusi Bukan Sekadar Program, tetapi Komitmen
Reiny menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan madrasah inklusi sangat ditentukan oleh adanya kesamaan visi dan misi seluruh pemangku kepentingan di madrasah.
“Yang paling penting adalah adanya kesamaan visi dan misi seluruh pemangku kepentingan di madrasah. Sering waktu, ekosistem madrasah inklusif terbentuk dengan sendirinya dan menjadi sesuatu yang lumrah,” jelasnya.
Dalam pengembangan program madrasah inklusi, MAN 11 Jakarta Selatan juga membangun kerja sama dengan sejumlah lembaga, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekolah Luar Biasa (SLB), serta Forum Pendidikan Madrasah Inklusi (FPMI). Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas madrasah dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Praktik pendidikan inklusif yang dijalankan MAN 11 Jakarta Selatan juga menunjukkan perkembangan yang positif. Sejumlah peserta didik mampu menorehkan prestasi di berbagai bidang, termasuk prestasi di bidang Tahfidz tingkat nasional oleh ananda Keyla dan juara catur pada ajang O2SN ananda Rizky tingkat DKI Jakarta serta berbagai prestasi lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa peserta didik berkebutuhan khusus maupun peserta didik lainnya memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berprestasi sesuai dengan potensi masing-masing.
Menggali Praktik Baik untuk Dikembangkan di Padang Pariaman
Sementara itu, pihak rombongan studi tiru menyampaikan bahwa kunjungan ke MAN 11 Jakarta Selatan menjadi momentum penting untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penyelenggaraan pendidikan inklusi.
Kegiatan konsultasi dan koordinasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih konkret bagi madrasah di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, khususnya dalam membangun tata kelola, budaya madrasah, pelayanan peserta didik, serta strategi pengembangan ekosistem pendidikan inklusif yang adaptif dan berkeadilan.
Pihak rombongan juga menilai bahwa setiap madrasah memiliki tanggung jawab untuk memberikan layanan pendidikan yang inklusif. Karena itu, dibutuhkan pemahaman, penguatan kapasitas, dan berbagi praktik baik agar implementasi pendidikan inklusi dapat berjalan secara optimal di setiap satuan pendidikan.
Secara regulatif, penyelenggaraan pendidikan madrasah juga memiliki landasan yang mengamanatkan pemberian akses pendidikan kepada seluruh peserta didik. Dalam konteks pendidikan inklusif, hal tersebut semakin menegaskan pentingnya madrasah membangun lingkungan belajar yang mampu mengakomodasi keberagaman dan kebutuhan setiap peserta didik.
“Setiap madrasah harus memberikan layanan pendidikan inklusi. Bagi Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, kami baru akan memulai program layanan inklusif. Karena itu, kami membutuhkan berbagai pemahaman, pencerahan, penguatan, dan keterampilan dalam melaksanakan program madrasah inklusi di daerah,” ungkap Edy Oktafiandi.
Ia berharap melalui studi konsultasi dan koordinasi tersebut, para kepala madrasah memperoleh gambaran yang lebih konkret tentang bagaimana madrasah inklusi dapat dikembangkan secara sistematis, mulai dari tata kelola hingga penciptaan budaya madrasah yang ramah bagi semua peserta didik.
Memperkuat Kolaborasi Antar-Madrasah
Kegiatan studi tiru ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan pengawas Kementerian Agama, termasuk Dharma Wanita (DW) Kankemenag Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Elinda Edy, serta sejumlah Kepala MTsN Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan inklusif membutuhkan dukungan dan kolaborasi lintas unsur.
Kegiatan diakhiri dengan sesi berbagi pengalaman dan diskusi mengenai langkah-langkah penguatan implementasi madrasah inklusi di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk menggali lebih jauh pengalaman MAN 11 Jakarta Selatan dalam membangun layanan pendidikan yang ramah, setara, dan memberikan ruang tumbuh bagi seluruh peserta didik.
Melalui kegiatan ini, MAN 11 Jakarta Selatan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya studi tiru, tetapi juga menjadi ruang berbagi praktik baik dan inspirasi bagi pengembangan pendidikan madrasah di berbagai daerah.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang semakin kuat antara MAN 11 Jakarta Selatan dengan madrasah-madrasah di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Semangat berbagi, belajar, dan berkolaborasi menjadi langkah bersama untuk mewujudkan pendidikan madrasah yang inklusif, ramah, setara, berkeadilan, dan berkualitas bagi seluruh peserta didik.
MAN 11 Jakarta Selatan — Berbagi Praktik Baik, Menguatkan Madrasah Inklusif, Menginspirasi Pendidikan Indonesia.


