MAN 11 Jakarta

Pemutaran Film Pendek Karya Siswa MAN 11 Jakarta: Suara Kreativitas Lewat Kamera

Jakarta (Humas MAN 11 Jakarta) – Ruang aula MAN 11 Jakarta dipenuhi antusiasme seluruh siswa-siswi yang menghadiri kegiatan pemutaran film pendek karya siswa kelas XI. Kegiatan ini menampilkan dua film yang diproduksi oleh kelas XI Pendidikan Keilmuan dan XI Sosial Humaniora. Dua film yang ditayangkan, berjudul Panggilan Pulang dari kelas XI Dikmu dan Silent Revenge dari kelas XI Soshum, mengangkat tema besar “konflik sosial” yang diolah dengan pendekatan sinematik yang menggugah, Selasa (24/06/2025).

Kegiatan ini menjadi puncak dari proyek pembelajaran sosiologi yang mendorong siswa untuk tidak hanya memahami isu sosial secara teoritis, tetapi juga mengemasnya dalam bentuk karya kreatif. Para siswa terlibat penuh mulai dari penulisan ide cerita, menyusun naskah, penyutradaraan, pengambilan gambar, hingga proses penyuntingan, yang semuanya 22dilakukan secara mandiri di bawah bimbingan guru sosiologi.

Dalam sambutannya, Elpiana, guru pendamping kegiatan ini, menyampaikan rasa bangga terhadap dedikasi dan kerja keras siswa. “Lewat karya ini, saya melihat bahwa anak-anak kita tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi belajar akan keberanian, belajar mengatur waktu ditengah padatnya pelajaran, belajar menahan ego demi kerja tim, dan belajar akan tanggung jawab untuk setiap keputusan yang diambil. Karena pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya soal nilai diatas kertas tapi tentang ruang untuk tumbuh, ruang untuk mencoba dan ruang untuk didengar,” ujarnya dengan bangga.

Kepala MAN 11 Jakarta, Halimatussa’diyah turut memberikan apresiasi tinggi dalam sambutannya. “Kegiatan ini adalah wadah dari gerakan literasi visual di madrasah tercinta ini, ibu bangga akan kreativitas dan semangat dalam proses pembuatan film ini sehingga menjadi satu karya utuh yang kita saksikan. sekolah akan berupaya untuk support setiap kegiatan peserta didik” tutur beliau.

Film Panggilan Pulang menceritakan konflik remaja dengan teman sebaya dan keluarga, sedangkan Silent Revenge menghadirkan potret psikologis remaja dalam menghadapi tekanan ekonomi dan konflik keluarga. Kedua film tersebut sukses memancing diskusi dan apresiasi dari seluruh siswa yang hadir, membuktikan bahwa karya pelajar pun mampu menyampaikan pesan mendalam.

Salah satu sutradara, Syifa menyampaikan kesannya dalam proses pembuatan film, “proyek film ini tidak hanya sebatas tugas tapi hasil dari proses kita yang panjang, ada konflik, air mata, dan perjuangan. kita jadi saling mengerti, lebih kompak, lebih sabar, lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan dan jadi pengalaman yang layak untuk diceritakan,” ujarnya dengan bangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *