Kepala MAN 11 Jakarta Paparkan Praktik Baik Pendidikan Karakter di Symposium Internasional
Jakarta (Humas MAN 11 Jakarta) – Kepala MAN 11 Jakarta menjadi salah satu pembicara pada Symposium internasional bertema “Culturally–Informed Educational Leadership in Asia” yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin, 11 Agustus 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) bekerja sama dengan University of Melbourne dan University of Hong Kong.12/08/2025
Symposium ini mengangkat topik kepemimpinan pendidikan yang berperspektif budaya Asia, memberikan sudut pandang kritis terhadap paradigma kepemimpinan yang selama ini cenderung berpusat pada konsep Barat. Para peneliti dan praktisi pendidikan dari berbagai negara hadir untuk berbagi gagasan, pengalaman, serta refleksi tentang bagaimana sistem budaya dan kepercayaan membentuk praktik kepemimpinan di lembaga pendidikan.
Dalam diskusi tersebut, peserta diajak mengeksplorasi studi kasus dan pembelajaran dari tiga negara Asia, yakni Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Masing-masing narasumber menyampaikan praktik nyata kepemimpinan pendidikan yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, termasuk tantangan dan inovasi yang dilakukan di lingkungannya.
Kepala MAN 11 Jakarta memaparkan pengalaman memimpin madrasah dalam membangun pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari. Dengan latar belakang peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua yang beragam secara budaya, pendekatan kepemimpinan yang inklusif menjadi kunci keberhasilan. Pendidikan karakter di MAN 11 diimplementasikan melalui kegiatan salam sapa pagi, program inklusi, riset, serta kerja sama membangun jejaring kemitraan.
“Dengan kehadiran siswa inklusi, kami semua belajar untuk bersikap toleran, peduli, peka, dan egaliter secara alami. Ini menjadi bekal bagi siswa untuk tampil di kehidupan nyata mereka di masyarakat,” ujar Kepala MAN 11 Jakarta dalam paparannya. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi dipraktikkan langsung dalam interaksi sehari-hari.
“Untuk menumbuhkan kecerdasan sosial sebagai pembentukan karakter kemua kegiatan tersebut kami kuatkan dengan pendekatan sosial,” tambahnya.
Selain itu, Kepala MAN 11 juga menekankan bahwa karakter peserta didik tidak dibentuk secara instan, melainkan melalui proses berkelanjutan yang melibatkan seluruh ekosistem sekolah. Dukungan dan kolaborasi antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.
Para peserta Symposium memberikan apresiasi atas paparan yang memadukan teori kepemimpinan pendidikan dengan praktik nyata di lapangan. Model pendidikan karakter yang disampaikan dinilai relevan untuk diaplikasikan di berbagai konteks sekolah multikultural di Asia.


